Berita
Malam Tak Selalu Gulita

Hari ini adalah hari pertamaku membuka materi baru. Setelah kemarin murid-muridku bergirang menerima hasil ulangan harian pertama mereka di babak baru berseragam putih biru tua. Walau memang tak semua menerima hasil sesuai ekspektasi; aku pun mengevaluasi bagaimana caraku menstransfer ilmu. Mengapa beberapa dari mereka tak tunjukkan raut girang seperti kebanyakan di antaranya? Ah, itu kemarin. Hari ini semoga refleksi pertemuan lalu membuatku pun belajar lebih baik. Berharap di akhir ulangan harian nanti, raut bahagia bukan lagi milik sebagian saja dari mereka. Namun raut itu milik seisi kelas hingga membuncah; menebarkan semangat belajar di setiap sudutnya.
Di awal pembelajaran, seperti umumnya guru di tempatku mengajar; kami memulai dengan apersepsi. Media perangsang murid-muridku untuk membawa dunia mereka ke dalam duniaku. Dengan demikian, apa yang ingin aku sampaikan akan terhubung dan terkoneksi dengan baik tanpa salah persepsi. Menghubungkan antara pengetahuan yang sudah mereka miliki dengan pengetahuan baru yang akan mereka dapatkan. Pengetahuan baru itu adalah belajar mengenal puisi rakyat.
Saat apersepsi, aku meminta salah satu di antara mereka mengangkat tangan. Menyetrum semangat mereka untuk berani membacakan terjemah salah satu ayat dari surat di Alquran yang mereka pilih sendiri. Yaa, media Alquran ini setiap saat ada di antara sekian senjata wajib di dalam kantong tas mereka. Jadi tak perlu susah mereka menemukan media itu. Tak dinyana, seketika banyak di antara mereka mengangkat tangan. Dengan riuh gemuruh khas suara anak perempuan, mereka berebut jawab. Sudah terbayang bukan bagaimana reaksi kaum hawa??! Ehehehe… karena saya pun seorang perempuan, sudah pasti tahu betul reaksi mereka beradu bisa. Apalagi ada kesepakatan kelas. Jika aktif dalam pembelajaran, mereka akan mendapatkan bintang. Suatu saat di akhir semester, mereka tukarkan bintang itu untuk menambah nilai. Nilai memang bukan segalanya. Namun segala proses belajar mereka, sudah sepatutnya dihargai dengan nilai. Ya, karena sistem pendidikan menggunakan nilai sebagai algoritma keberhasilan sebuah pendidikan, maka tidak salah jika semangat mereka berupah nilai. Yang jelas, melihat reaksi buncah semangat mereka mewarnai pembelajaran; adalah nilai yang tak ternilai juga harganya.
Namun di sebuah bangku di sudut kanan dari kerling mataku, sesosok murid menampakkan kelesuan. Posisi duduknya tak menghadapku. Kepalanya pun seakan roboh seolah tak kuasa menahan beban. Apakah aku seolah beban buatnya? Padahal, aku seakan menjadi ratu dalam pion catur kelas mereka. Tapi mengapa rautnya begitu menampakkan rasa tak nyaman? Namun acuh. Aku kembali mengalihkan pandangku untuk menyambut gemuruh riuh teman-temannya. Karena sejujurnya raut seperti itu sekali waktu, aku temukan di wajahnya. Yah, mungkin dia sedang penat dengan dirinya sendiri. Atau memang sedang menyampaikan sinyal. ’Aku sedang tidak ingin belajar.’
***
Salah satu di antara mereka akhirnya aku pilih. Bukan lengking suaranya yang paling kuat, bukan pula reaksinya yang paling semangat. Dia kupilih karena di pembelajaran sebelumnya ternyata dia belum sama sekali mengantongi bintang dariku. Maka berhasillah dia unjuk kebolehan dengan membacakan salah satu terjemah ayat di surat Al Qasas.
***
Masih sama. Kerling mataku kali ini memanduku untuk menyapanya. Menyapa dia yang tak berkutik. Posisi duduknya, raut mukanya. Benar-benar bak patung yang berhasil mengokohkan keakuannya karena tak sedikitpun bergeser dari beberapa menit yang lalu. Aku putuskan. Kali ini pembelajaran tak mungkin aku lanjutkan. Ada dia di sana. Yang aku sendiri belum tahu, apa maksud dari segala mimiknya yang terbaca sedari tadi.
”Di mana Alquranmu, Nak?” tanyaku penuh hati-hati. Kehati-hatianku ternyata tak memberikan aku jawaban yang melegakan. Wajah sinis seakan tak peduli. Diiring dengan gelengan kepala, cukup memberikan kode kepadaku. Itu jawabannya. Sontak, aku tak pernah berpikir jawabannya akan sedingin itu. Aku pun masih penasaran. Aku tanya kembali. Kali ini perasaaanku mulai tergelitik untuk ingin terlihat lebih tegas lagi.
”Apakah kamu menyimak pembahasan kita di kelas? Ustadzah amati sedari tadi kamu menikmati dirimu sendiri. Tak peduli apa yang dibahas di kelas.” degup jantungku pun mengikuti nada suaraku yang kian meninggi. Daaan… masih. Masih saja wajah mungilnya menampakkan keacuhan seolah sikapnya tadi sama sekali tidak berpengaruh untuk kelas atau pun untukku.
Tak mungkin aku kembali acuh. Ada yang salah. Ada yang harus diluruskan. Bisa saja aku habiskan waktu yang seharusnya menjadi hak kelas untuk mendapatkan pembelajaran yang seharusnya berjalan normal. Namun, bisa jadi ini satu kesempatanku untuk memahamkan kepada semua- melalui tingkah salah satu temannya. Maka biarlah pembelajaran berhenti sejenak. Kembali aku sampaikan dengan nada penuh kehati-hatian. Bahwa sejatinya seorang yang sedang menuntut ilmu itu harus paham menempatkan diri. Karena salah satu bukti kita menghormati ilmu adalah dengan menghormati guru. Di antara bentuk penghormatan kepada guru adalah dengan lisan yang tidak menyakiti perasaannya. Aku sampaikan saja kalau sebenarnya aku tidak berkenan dengan sikapnya terhadapku. Namun aku yakinkan kepadanya bahwa dia melakukan hal tersebut karena ketidaktahuan. Aku yakinkan kembali bahwa nasihat ini bukan untuk dia seorang tapi seisi kelas. Akhirnya, benar. Pembelajaran hari ini hanya sampai apersepsi saja. Waktu habis. Tapi biarlah aku kehilangan waktu belajar materi bersama mereka namun tidak kehilangan waktu untuk membentuk karakter mereka.
***
Berselang setelah hari itu, aku merasakan ada rona berbeda yang terpancar dari dia. Anak yang kemarin seolah menjadi terdakwa. Alih-alih merasa seperti mendapat penghakiman. Merasa malunya dipertontonkan di depan kelas. Ternyata tidak. Senyum cerahnya kini senantiasa menghiasi setiap waktu pertemuan kami saat beradu mata di jalan sekolah. Di kelas pun, dia menjadi satu dari sekian anak yang selalu ingin meramaikan kelas dengan jawaban dan pertanyaan yang menghidupkan suasana. Terima kasih, nak. Terima kasih atas ikhlasmu menjadi donor kesalahan di depan teman-temanmu. Terima kasih untuk kesabaranmu menerima sedikit petuah itu. Kau bak malam, namun ternyata bukan gulita yang kau pantulkan. Namun malam yang pantulkan cahaya cinta. Memang, malam tak selalu gulita.
***
Aku- Ustadzah Cahaya guru Bahasa Indonesia di sekolah dengan nama beken SPANDA. Seorang yang mengaku mengabdi untuk mendidik manusia istimewa. Namun sedari lima belas tahun yang lalu, seakan aku yang merasa diistimewakan. Senantiasa mereguk aura ilmu dari mereka yang kusebut murid. Maka sejadinya, aku tak ingin lagi menjadi parasit. Aku dan kamu serta kalian, muridku. Marilah kita menjadi simbiosis mutualisme. Aku bersabar untuk membersamai derap citamu. Kau pun sama. Bersabarlah meneguk setiap ilmu yang mengalir. Karena tak nyana. Ada berkah dibalik kesabaranmu mengikuti aliran ilmu yang pastinya tak selalu indah dirasa.
Nur Adi Putri Satiti, S.S.
humaspanda@gmail.com
(024) 6710497























