Berita
Selamat & Sukses Dr. Muhammad Ahsan, S.Ag.,M.Pd

Segenap Civitas SMPIT Harapan Bunda Semarang mengucapkan Selamat & Sukses Dr. Muhammad Ahsan S.Ag., M.Kom atas dilantiknya Sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang










Berita

Segenap Civitas SMPIT Harapan Bunda Semarang mengucapkan Selamat & Sukses Dr. Muhammad Ahsan S.Ag., M.Kom atas dilantiknya Sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang
Berita

Mengajar kali pertama di laboratorium komputer untuk kelas tujuh ikhwan SMP IT Harapan Bunda merupakan pengalaman yang penuh dengan adrenalin, tawa, dan pelajaran berharga tentang manajemen kelas.
Saat itu merupakan hari pertama saya mengajar TIK. Saya membawa laptop dan tumpukan modul, melangkah menuju laboratorium komputer SMP IT Harapan Bunda. Di depan pintu, sekelompok ikhwan kelas tujuh sudah menunggu dengan antusiasme. Bagi mereka, masuk ke lab komputer bukan sekadar pelajaran, melainkan sebuah petualangan.
Saat pintu lab computer terbuka, suasana menjadi riuh. Anak-anak yang baru saja bertransisi dari SD ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Belum sempat saya membuka sesi dengan salam yang tenang, beberapa dari mereka sudah sibuk menekan tombol power dan memeriksa mouse.
“Ustadzah, ini nanti kita belajar main game?” atau “Ustadzah, boleh buka internet?” adalah pertanyaan-pertanyaan pertama mereka. Di sini saya sadar, mengajar mereka membutuhkan “rem” yang kuat namun tetap ramah agar energi mereka tetap terarah pada materi.
Tantangan terbesar di pertemuan pertama adalah memastikan mereka memahami bahwa lab komputer adalah ruang belajar, bukan sekadar tempat bermain. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak langsung menyentuh keyboard.
Kami menghabiskan 15 menit pertama untuk membahas Adab di Lab Komputer. Mulai dari cara duduk yang benar, larangan membawa makanan, hingga komitmen untuk hanya membuka aplikasi yang diperintahkan. Mengajarkan adab kepada anak-anak harus dilakukan dengan pendekatan yang logis namun tegas, sesuai dengan prinsip sekolah Islam Terpadu.
Ketika praktik dimulai, suasana menjadi kondusif. Ada yang mahir hingga melampaui instruksi saya, namun ada juga yang bingung mencari letak tombol Shift. Lucunya lagi, mereka sangat ekspresif. Jika ada yang berhasil membuat sebuah folder atau mengetik kalimat pertama, mereka akan bersorak seolah baru saja mencetak gol di lapangan futsal.
Kesabaran saya diuji saat harus berpindah dari satu meja ke meja lain untuk membantu mereka yang komputernya tiba-tiba “error” hanya karena salah klik. Namun, ketika melihat wajah-wajah polos itu fokus menatap layar, rasanya memberikan kepuasan tersendiri.
Di akhir jam pelajaran, tantangan terakhir adalah merapikan kelas. Mengajak siswa laki-laki usia 12-13 tahun untuk merapikan kursi dan mematikan komputer sesuai prosedur merupakan perjuangan kecil lainnya. Namun, saat mereka bersalaman dengan takzim sambil mengucapkan, “jazakillah, Ustadzah, pelajarannya seru!”, semua rasa lelah itu hilang seketika.
Pengalaman pertama ini mengajarkan saya bahwa mengajar kelas tujuh Ikhwan di SMP IT Harapan Bunda bukan soal seberapa canggih materi yang saya berikan, melainkan seberapa kuat ikatan (bonding) dan kedisiplinan yang dibangun sejak menit pertama. Mereka adalah “kertas putih” yang penuh energi, tugas saya adalah membantu mereka dengan penuh tanggungjawab.
Oleh : Nani Afriyani, S.Sn.
Berita

Alhamdulillah Wa Barakallah Seluruh Peserta EBTAQ SMPIT Harapan Bunda Lulus 100 %, Semoga ilmunya bermanfaat dan dimudahkan untuk menjaga bacaan Al- Qur’annya Aminn

Berita

Hari ini adalah hari pertamaku membuka materi baru. Setelah kemarin murid-muridku bergirang menerima hasil ulangan harian pertama mereka di babak baru berseragam putih biru tua. Walau memang tak semua menerima hasil sesuai ekspektasi; aku pun mengevaluasi bagaimana caraku menstransfer ilmu. Mengapa beberapa dari mereka tak tunjukkan raut girang seperti kebanyakan di antaranya? Ah, itu kemarin. Hari ini semoga refleksi pertemuan lalu membuatku pun belajar lebih baik. Berharap di akhir ulangan harian nanti, raut bahagia bukan lagi milik sebagian saja dari mereka. Namun raut itu milik seisi kelas hingga membuncah; menebarkan semangat belajar di setiap sudutnya.
Di awal pembelajaran, seperti umumnya guru di tempatku mengajar; kami memulai dengan apersepsi. Media perangsang murid-muridku untuk membawa dunia mereka ke dalam duniaku. Dengan demikian, apa yang ingin aku sampaikan akan terhubung dan terkoneksi dengan baik tanpa salah persepsi. Menghubungkan antara pengetahuan yang sudah mereka miliki dengan pengetahuan baru yang akan mereka dapatkan. Pengetahuan baru itu adalah belajar mengenal puisi rakyat.
Saat apersepsi, aku meminta salah satu di antara mereka mengangkat tangan. Menyetrum semangat mereka untuk berani membacakan terjemah salah satu ayat dari surat di Alquran yang mereka pilih sendiri. Yaa, media Alquran ini setiap saat ada di antara sekian senjata wajib di dalam kantong tas mereka. Jadi tak perlu susah mereka menemukan media itu. Tak dinyana, seketika banyak di antara mereka mengangkat tangan. Dengan riuh gemuruh khas suara anak perempuan, mereka berebut jawab. Sudah terbayang bukan bagaimana reaksi kaum hawa??! Ehehehe… karena saya pun seorang perempuan, sudah pasti tahu betul reaksi mereka beradu bisa. Apalagi ada kesepakatan kelas. Jika aktif dalam pembelajaran, mereka akan mendapatkan bintang. Suatu saat di akhir semester, mereka tukarkan bintang itu untuk menambah nilai. Nilai memang bukan segalanya. Namun segala proses belajar mereka, sudah sepatutnya dihargai dengan nilai. Ya, karena sistem pendidikan menggunakan nilai sebagai algoritma keberhasilan sebuah pendidikan, maka tidak salah jika semangat mereka berupah nilai. Yang jelas, melihat reaksi buncah semangat mereka mewarnai pembelajaran; adalah nilai yang tak ternilai juga harganya.
Namun di sebuah bangku di sudut kanan dari kerling mataku, sesosok murid menampakkan kelesuan. Posisi duduknya tak menghadapku. Kepalanya pun seakan roboh seolah tak kuasa menahan beban. Apakah aku seolah beban buatnya? Padahal, aku seakan menjadi ratu dalam pion catur kelas mereka. Tapi mengapa rautnya begitu menampakkan rasa tak nyaman? Namun acuh. Aku kembali mengalihkan pandangku untuk menyambut gemuruh riuh teman-temannya. Karena sejujurnya raut seperti itu sekali waktu, aku temukan di wajahnya. Yah, mungkin dia sedang penat dengan dirinya sendiri. Atau memang sedang menyampaikan sinyal. ’Aku sedang tidak ingin belajar.’
***
Salah satu di antara mereka akhirnya aku pilih. Bukan lengking suaranya yang paling kuat, bukan pula reaksinya yang paling semangat. Dia kupilih karena di pembelajaran sebelumnya ternyata dia belum sama sekali mengantongi bintang dariku. Maka berhasillah dia unjuk kebolehan dengan membacakan salah satu terjemah ayat di surat Al Qasas.
***
Masih sama. Kerling mataku kali ini memanduku untuk menyapanya. Menyapa dia yang tak berkutik. Posisi duduknya, raut mukanya. Benar-benar bak patung yang berhasil mengokohkan keakuannya karena tak sedikitpun bergeser dari beberapa menit yang lalu. Aku putuskan. Kali ini pembelajaran tak mungkin aku lanjutkan. Ada dia di sana. Yang aku sendiri belum tahu, apa maksud dari segala mimiknya yang terbaca sedari tadi.
”Di mana Alquranmu, Nak?” tanyaku penuh hati-hati. Kehati-hatianku ternyata tak memberikan aku jawaban yang melegakan. Wajah sinis seakan tak peduli. Diiring dengan gelengan kepala, cukup memberikan kode kepadaku. Itu jawabannya. Sontak, aku tak pernah berpikir jawabannya akan sedingin itu. Aku pun masih penasaran. Aku tanya kembali. Kali ini perasaaanku mulai tergelitik untuk ingin terlihat lebih tegas lagi.
”Apakah kamu menyimak pembahasan kita di kelas? Ustadzah amati sedari tadi kamu menikmati dirimu sendiri. Tak peduli apa yang dibahas di kelas.” degup jantungku pun mengikuti nada suaraku yang kian meninggi. Daaan… masih. Masih saja wajah mungilnya menampakkan keacuhan seolah sikapnya tadi sama sekali tidak berpengaruh untuk kelas atau pun untukku.
Tak mungkin aku kembali acuh. Ada yang salah. Ada yang harus diluruskan. Bisa saja aku habiskan waktu yang seharusnya menjadi hak kelas untuk mendapatkan pembelajaran yang seharusnya berjalan normal. Namun, bisa jadi ini satu kesempatanku untuk memahamkan kepada semua- melalui tingkah salah satu temannya. Maka biarlah pembelajaran berhenti sejenak. Kembali aku sampaikan dengan nada penuh kehati-hatian. Bahwa sejatinya seorang yang sedang menuntut ilmu itu harus paham menempatkan diri. Karena salah satu bukti kita menghormati ilmu adalah dengan menghormati guru. Di antara bentuk penghormatan kepada guru adalah dengan lisan yang tidak menyakiti perasaannya. Aku sampaikan saja kalau sebenarnya aku tidak berkenan dengan sikapnya terhadapku. Namun aku yakinkan kepadanya bahwa dia melakukan hal tersebut karena ketidaktahuan. Aku yakinkan kembali bahwa nasihat ini bukan untuk dia seorang tapi seisi kelas. Akhirnya, benar. Pembelajaran hari ini hanya sampai apersepsi saja. Waktu habis. Tapi biarlah aku kehilangan waktu belajar materi bersama mereka namun tidak kehilangan waktu untuk membentuk karakter mereka.
***
Berselang setelah hari itu, aku merasakan ada rona berbeda yang terpancar dari dia. Anak yang kemarin seolah menjadi terdakwa. Alih-alih merasa seperti mendapat penghakiman. Merasa malunya dipertontonkan di depan kelas. Ternyata tidak. Senyum cerahnya kini senantiasa menghiasi setiap waktu pertemuan kami saat beradu mata di jalan sekolah. Di kelas pun, dia menjadi satu dari sekian anak yang selalu ingin meramaikan kelas dengan jawaban dan pertanyaan yang menghidupkan suasana. Terima kasih, nak. Terima kasih atas ikhlasmu menjadi donor kesalahan di depan teman-temanmu. Terima kasih untuk kesabaranmu menerima sedikit petuah itu. Kau bak malam, namun ternyata bukan gulita yang kau pantulkan. Namun malam yang pantulkan cahaya cinta. Memang, malam tak selalu gulita.
***
Aku- Ustadzah Cahaya guru Bahasa Indonesia di sekolah dengan nama beken SPANDA. Seorang yang mengaku mengabdi untuk mendidik manusia istimewa. Namun sedari lima belas tahun yang lalu, seakan aku yang merasa diistimewakan. Senantiasa mereguk aura ilmu dari mereka yang kusebut murid. Maka sejadinya, aku tak ingin lagi menjadi parasit. Aku dan kamu serta kalian, muridku. Marilah kita menjadi simbiosis mutualisme. Aku bersabar untuk membersamai derap citamu. Kau pun sama. Bersabarlah meneguk setiap ilmu yang mengalir. Karena tak nyana. Ada berkah dibalik kesabaranmu mengikuti aliran ilmu yang pastinya tak selalu indah dirasa.
Nur Adi Putri Satiti, S.S.
Berita

🔥 PENDAFTARAN JALUR INDEN 🔥
Bismillahirrahmanirrahim
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)SMPIT Harapan Bunda Semarang Tahun Ajaran 2026/2027
💫 Menjadi Generasi Mukallaf 💫
🎯 Pendaftaran Jalur INDEN
15 September – 31 Oktober 2025
📝 ALUR PENDAFTARAN
– Secara offline : Langsung di Ruang Tamu SMPIT Harapan Bunda Semarang
– Secara online : silakan isi link pendaftaran SPMB dibawah ini⬇️⬇️⬇️
https://bit.ly/PendaftaranSPMB_SPANDA2627
🏠 ALAMAT
SMPIT Harapan Bunda Semarang
JL. Kh.Tohir Gg. Sunan Kalijaga X, Penggaron Kidul, Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah 50194
https://maps.app.goo.gl/KLHQdiTXZSnFhR5C8?g_st=ic
KUOTA TERBATAS, TUNGGU APALAGI?!!!
SEGERA hubungi kami :
📱 085700438439 (Admin SPMB)
Berita

Menjadi seorang guru sudah menjadi cita cita saya sejak saya masih belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Alhamdulillah sejak lulus dari kuliah D1 Pendidikan Guru Pengajar Al Qur’an (PGPQ) pada tahun 2014 sampai dengan sekarang Allah mengizinkan saya menjadi seorang Guru di SMPIT Harapan Bunda Semarang.
Amanah menjadi penguji sudah saya jalani sejak tahun 2018, memang tidak mudah menjalaninya apalagi ketika siswa yang ujian tidak lulus karena tidak lancar, ada harokat dan makhroj yang kurang benar, bacaan tidak tartil, dan seterusnya sehingga saya harus menyatakan bahwa anak tersebut belum bisa lulus tes kenaikan surat atapun kenaikan juz. Tentu saja, ada perasaan sedih pada diri saya ketika menyatakan siswa tidak lulus, tetapi kembali lagi semua itu untuk kebaikan siswa agar hafalan mereka benar, lancar dan tartil (Mutqin).
Di sisi lain, ada perasaan bahagia dan bangga ketika ada siswa saat ujian membaca dengan lancar, tartil, dan jelas makhorijul hurufnya sehingga saya bisa menyatakan siswa tersebut lulus tes surat atau juznya, maka saya akan mengapresiasi dengan menyampaikan doa “ Baarokalloh Sholihah, Semoga terus terjaga hafalannya dan selalu dimudahkan dalam menghafal Al Qur’an” . Selain saya sampaikan secara lisan saya juga akan menuliskan pada catatan buku prestasi mereka dengan do’a yang sama tulisan Baarokalloh.
Pada suatu ketika ada guru kelompok yang menyampaikan kepada saya,
Guru : “Ustadzah tadi muridku setelah tes ada yang sedih”
Saya : “kenapa ustadzah? Karena tidak lulus tesnya?”
Guru : “Lulus ustadzah”
Saya : “Terus kenapa murid tersebut sedih ustadzah?”
Guru : “Dia lulus tes suratnya, tapi sedih karena di buku prestasinya tidak dapat tulisan Baarokalloh”
Saya : “Astaghfirullah, Afwan ustadzah tadi itu yang mengantri tes banyak banget sampai tidak sempat untuk menulis Baarokalloh di buku prestasinya, hanya menyampaikan secara lisan saja”
Guru : “Oooh, begitu ceritanya”
Saya : “Iya ustadzah”
Begitu kaget dan sedihnya saya mendengar hal tersebut, meskipun saya tidak menulis di buku prestasinya itu bukan karena sengaja, tetapi karena terlalu banyak antrian siswa yang tes, sehingga ucapan baarokalloh itu hanya saya sampaikan secara lisan dan tidak tertulis di buku prestasinya.
Pada keesokan harinya sayapun akhirnya menemui anak tersebut dan menyampaiakn maaf kepada anak tersebut, kemudian saya tuliskan ucapan do’a itu di buku prestasinya dan begitu bahagianya dia ketika di buku prestasinya tertulis Baarokalloh. Melihat hal itu sayapun ikut bahagia.
Dari kejadian tersebut menjadi pengingat bagi saya bahwa sesuatu yang menurut kita biasa, ternyata begitu bermakna dihati siswa. Sejak itu saya selalu mengingat untuk menulis ucapan Baarokalloh di buku prestasi siswa. Semoga do’a yang saya sampaikan dan saya tuliskan itu bisa menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus belajar membaca, menghafal, dan semakin cinta dengan Al Qur’an.
Berita

Setiap individu pasti menginginkan hidup yang bermakna, di mana keberadaannya membawa dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Dalam prosesnya, tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain menjadi orang yang produktif dan bermanfaat, sehingga keberadaannya selalu dirindukan dan kepergiannya meninggalkan legacy yang baik. Islam menjadi agama yang menyempurnakan fitrah manusia, tidak hanya menganjurkan umatnya untuk hidup aktif dan berkontribusi, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Individu yang senantiasa produktif pasti memiliki pola pikir positif dan senantiasa mengembangkan growth mindset dalam dirinya. Growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kecerdasan dan keterampilan dapat dikembangkan melalui dedikasi, kerja keras, serta strategi yang tepat. Dalam Islam, ada beberapa tips yang bisa diterapkan, antara lain meyakini bahwa potensi diri bisa terus berkembang, melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar, menjadikan kegagalan sebagai motivasi untuk bangkit, berupaya terus belajar dan memperbaiki diri, serta berdoa dan memohon pertolongan Allah SWT.
Selain itu, lakukan perbuatan baik dalam keseharian kita seperti membaca Al-Quran, berdzikir, bersedekah, membaca buku-buku rohani, dan menjaga hubungan dengan keluarga dan teman dekat. Sebagaimana firman Allah SWT di Surat Ar-Ra’d ayat 11 yang menekankan bahwa perubahan dalam diri individu dapat membawa perubahan pada kondisi kaum/masyarakatnya. Selain itu, surat Al-Isra ayat 36 mengingatkan untuk tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui ilmunya, menunjukkan pentingnya terus belajar dan mengembangkan diri.
Belajar dari kisah Nabi Adam AS dan Nabi Musa AS . Kisah Nabi Adam AS, manusia pertama yang diciptakan, juga bisa menjadi contoh growth mindset. Meskipun ditempatkan di surga dengan segala kenikmatan, ia diuji dan diberi pelajaran tentang kesalahan dan bagaimana memperbaikinya. Sedangkan kisah Nabi Musa AS yang mencari ilmu kepada Nabi Khidir juga menunjukkan semangat growth mindset dalam mencari ilmu dan tidak mudah merasa puas dengan pengetahuan yang dimiliki. Dengan memahami ayat-ayat dan kisah-kisah dalam Al-Quran, seorang muslim dapat menumbuhkan growth mindset dalam dirinya, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat terus berkembang melalui usaha, pembelajaran, dan evaluasi diri.
Apabila growth mindset itu terinternalisasi dalam diri maka akan mendorong seseorang lebih produktif dalam kesehariannya . Produktivitas bukanlah sekadar konsep material, tetapi sebuah nilai yang mencakup aspek spiritual, sosial, dan intelektual. Menjadi manusia produktif berarti memanfaatkan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk kebaikan. Namun, tantangan dalam kehidupan modern sering kali membuat seseorang terlena dengan rutinitas dan melupakan pentingnya menjadi individu yang memberikan dampak. Islam mengajarkan bahwa produktivitas yang sejati adalah yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT dan membawa kebaikan tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Contoh penerapan konsep growth mindset dan produktivitas dalam beramal yang hingga kini saya lakukan yaitu, Pertama, Yakin bahwa Allah SWT bersama kita. Setiap hal sekecil apapun yang kita lakukan tidak ada yang tidak terekam, maka dari sikap ihsan, kita melakukan amanah dengan baik, antara lain menyelesaikan tugas secara mandiri, tanggungjawab, disiplin, jujur, tuntas dan berdampak positif terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hindari sikap ketergantungan dengan oranglain ataupun malas untuk melaksanakan amanah. Kedua, Usaha optimal dengan cara “Tulis dan Lakukan”. Setiap diri kita pasti memiliki keterbatasan baik fisik, kognitif, ketrampilan maupun afektif. Maka, sikap konsisten itu diperlukan dengan menulis apapun yang akan dilakukan agar tidak lupa maupun terlewat , dengan itu Allah SWT melihat usaha kita. Kalaupun hasilnya belum sesuai, kita telah melakukan sebuah proses. Ketiga, Sampai ke target. Pastikan membuat roadmap baik jangka pendek maupun jangka panjang agar apa yang kita lakukan sesuai target yang kita harapkan. Jatuh bangun bagian dari bentuk perjuangan. Man Jadda Wajadda “Barangsiapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil”, hal itu yang selalu menjadi spirit penulis dalam mengemban tugas ataupun amanah. Jangan sampai waktu 24 jam kita berjalan begitu saja tanpa berarti. Keempat, Buat legacy terbaik. Buatlah legacy/ kenangan yang indah dan terbaik dimanapun kita berada dan di posisi apapun (guru, karyawan, KS, CS, security atau lainnya) karena sebaik-baik manusia yaitu yang bermanfaat untuk sekelilingnya, maka memberikan sebuah kenangan positif tidak selalu berupa materiil, namun, bisa juga non materiil yang kelak jadi ladang pahala kita.
Sebagaimana kita ketahui konsep kepemimpinan dalam islam (red:khalifah) di bumi, menekankan amanah dan tanggung jawab untuk memimpin dengan adil, bijaksana dan berdasarkan Al-Quran serta Sunnah. Seorang pemimpin harus memiliki sifat siddiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas) seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW nabi akhir zaman.
Berita

RADARSEMARANG.ID, SMPIT Harapan Bunda Semarang (Spanda) menggelar karya P5 siswa Jumat (23/5).
Mengusung tema “Berekeyasa dan Berteknologi Untuk Membangun NKRI”. Para siswa ikut dalam pentas seni, pameran produk buatan siswa digelar. Pentas seni yang ditampilkan antara lain, puisi, menyanyi, pidato, menyanyi dan yel-yel untuk penyemangat acara. Adapun untuk produk yang digelar antara lain roket air dan lampu tidur.
Produk yang dibuat rata-rata dari bahan bekas seperti plastik, botol mineral bekas dan kertas kardus.
Sepekan sebelum acara P5 ini digelar, roket telah diuji cobakan dan telah dipastikan berfungsi dengan baik.
Selain P5 dilaksanakan juga seleksi duta literasi Spanda. Seleksi dilakukan secara cermat dengan mewawancarai para calon duta literasi satu per satu.
Dalam kesempatan tersebut, Kenzie Wistara Tungga kelas 8A dan Crystal Nada Annabila kelas 7B terpilih sebagai duta literasi.
Mereka nantinya menjadi contoh dan figure bagi teman-temannya dalam hal berliterasi dan menjadi perwakilan dari Spanda terkait kegiatan yang berhubungan dengan literasi baik di internal maupun eksternal.
Waka kurikulum Spanda, Nur Adi Putri Satiti, S.S. mengatakan, literasi merupakan bagian penting dalam setiap nadi kehidupan.
Saat ini kita memang sedang mengalami tantangan besar dalam dunia literasi, maka menghidupkan literasi sangat penting khususnya dalam bidang pendidikan.
“Maka, sebagai langkah awal menuju keberhasilan tersebut, kita pilih duta literasi yang nantinya dapat membawa dampak positif terhadap siswa khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya,” ujarnya.
https://radarsemarang.jawapos.com/edukasi/726065895/spanda-gelar-p5-dan-pemilihan-duta-literasi?page=2#google_vignette
Berita

🔥 SPESIAL HARDIKNAS 🔥
SMPIT Harapan Bunda Semarang membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa kelas 6 untuk bergabung di sekolah kami.
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional kami membuka kesempatan spesial dan dapatkan:
📍 Spesial Potongan: Rp. 2.000.000
📍 BEBAS Tes Akademik
Kesempatan menarik ini hanya berlaku bagi para pendaftar di tanggal 1 s.d. 31 Mei 2025
💥 KUOTA TERBATAS 💥
Gunakan kesempatan ini untuk bergabung bersama SMPIT Harapan Bunda sekarang juga..
📍Daftar Online ke:
https://bit.ly/DAFTAR-SPANDA
Atau bisa langsung ke kantor kami SMPIT Harapan Bunda Semarang.
Jl. KH. Thohir Gg. Sunan Kalijaga X, Penggaron Kidul, Pedurungan, Semarang.
📍 More Info:
085700438439
📍Kunjungi website kami:
Berita

Pepatah Arab mengatakan:
“Metode itu lebih penting dari materi. Guru lebih penting dari metode. Dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri.”
Pepatah di atas menyiratkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang diajarkan (materi), melainkan oleh bagaimana cara mengajarkannya (metode), siapa yang mengajarkan (guru), dan lebih dalam lagi, oleh semangat dan keikhlasan yang ada dalam diri sang guru (jiwa guru).
Dalam pelajaran matematika, hal ini sangat relevan karena matematika sering dianggap sebagai pelajaran yang kaku dan sulit. Padahal, dengan metode yang tepat, guru bisa membuat matematika terasa hidup, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Seorang guru matematika yang memahami pentingnya metode akan mencari cara kreatif dalam mengajar, seperti menggunakan permainan, media interaktif, atau pendekatan kontekstual. Namun, lebih dari itu, guru yang penuh dedikasi akan menyesuaikan metodenya dengan kebutuhan siswa, memperhatikan gaya belajar yang berbeda, dan tidak menyerah ketika siswa belum paham. Guru seperti ini tidak hanya mengajar rumus, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam berpikir logis dan menyelesaikan masalah.
Namun, semua itu bermuara pada “jiwa guru”—yakni niat, cinta, dan tanggung jawab yang tulus dalam membimbing siswa. Dalam konteks matematika, jiwa guru tercermin saat ia sabar menjelaskan ulang, saat ia bersedia mendengarkan kebingungan siswa tanpa menghakimi, dan saat ia bersukacita melihat muridnya perlahan memahami konsep yang sebelumnya terasa asing. Jiwa guru menjadikan pelajaran matematika bukan sekadar soal benar-salah, tetapi sebagai sarana untuk menanamkan nilai ketekunan, kejujuran, dan logika berpikir yang akan bermanfaat seumur hidup.
Saya pun juga masih jauh dari kata sempurna. Saya masih sering ngebut ketika menyampaikan materi dan kadang terlupa bahwa yang mungkin diingat yaitu anak, bukan materinya tetapi metodenya. Paling tidak guru berusaha menghadirkan pembelajaran matematika yang menyenangkan dan bermakna melalui berbagai cara. Di antaranya dengan memanfaatkan game di tablet untuk menarik perhatian siswa dan melatih keterampilan berhitung secara interaktif. Selain itu, guru juga membuat permainan di dalam kelas menggunakan benda-benda sekitar, seperti penggaris, tali, atau bahkan hasil sitaan siswa seperti kartu UNO yang diubah menjadi media pembelajaran untuk materi Triple Pythagoras. Tak jarang, pembelajaran juga dilakukan di luar kelas agar siswa dapat melihat langsung penerapan konsep matematika dalam kehidupan nyata. Guru pun mendorong siswa untuk mencari informasi di internet yang berkaitan dengan pelajaran sebagai bagian dari pembelajaran mandiri. Penggunaan alat peraga dan media pembelajaran lainnya juga menjadi strategi untuk membantu siswa memahami konsep-konsep abstrak dengan cara yang lebih konkret dan visual.
Berikut pesan Pani Monika (Kepala Sekolah) untuk Bu Fakurly (Guru Bahasa Inggris) ketika Bu Fakurly pertama kali mengajar di Polandia:
“Yang paling penting kamu lakukan sebulan pertama bukan belajar administrasi pengajaran atau rencana bagaimana membuat anak-anak pintar. Bukan juga memilih buku terbaik atau strategi terbaik. Tetapi gunakan waktu lebih banyak untuk mengenali dan mendalami karakter muridmu di sini, karena yang terpenting bagi guru dan murid adalah hubungan. Gunakan seminggu, sebulan, atau sebanyak apapun yang kamu butuhkan untuk membangun hubungan baik dengan mereka. Kenali rasa cemas, takut, dan yang mereka rasakan dalam dirinya. Karena jika hubungan itu baik, semua yang kamu putuskan dan pakai di dalam kelas akan bermakna. Karena hubungan itu, maka guru dan murid akan berusaha sebaik mungkin untuk saling tidak mengecewakan dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Saya memilih kamu menjadi guru di sini bukan hanya agar murid pintar Bahasa Inggris saja, tetapi agar murid belajar tentang karakter, perbedaan, identitas, dan value yang melekat padamu. Ajarkan dan ceritakan mereka tentang yang ada di negaramu, alasanmu berpakaian berbeda, value yang mungkin anak Polandia perlu tahu. Bahasa Inggris nanti akan jadi bonusnya. Jadikan mereka pribadi yang lebih baik, bukan hanya di rapor semata, tetapi dalam kehidupan nyata.”