Pengumuman
Pengumuman










Pengumuman
Berita

Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan berhubungan timbal balik. Lawan dari lingkungan hidup adalah lingkungan buatan, yang mencakup wilayah dan komponen-komponen lain yang banyak dipengaruhi oleh manusia. Sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Januari. Hari Lingkungan Hidup Sedunia ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1972 untuk menandai pembukaan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia yang berlangsung antara tanggal 5-16 Juni 1972 di Stockholm. Hari lingkungan hidup dan kehutanan termasuk yang paling banyak macamnya diperingati setiap tahun. Ini menandakan bahwa isu ini memang sangat strategis karena menyangkut aspek fundamental yakni keberlanjutan bumi. Hanya saja, jika dibandingkan hari-hari penting lainnya, hari lingkungan hidup dan kehutanan tidak selalu dihafal luar kepala. Momen istimewa di bidang ini kadang hanya dirayakan oleh para pihak yang bekerja di isu ini, para aktivis lingkungan dan pegiat konservasi.
Padahal, beberapa momen krusial pada hari lingkungan dan kehutanan dapat dijadikan momen reflektif atas sejumlah isu-isu menarik. Sebagai contoh hari bumi yang meletakkan pijakan dasar pentingnya mendorong aksi cinta bumi. Atau hari Kenanekaragaman Hayati yang mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah Negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia, sehingga semua pihak harus bertindak menjaga dan melestarikannya. Oleh sebab itu, momen-momen penting ini harus disebarkan secara luas. Semua orang harus mulai ikut serta dalam setiap momen menarik yang mengingatkan tentang pelestarian lingkungan.
Gagasan di balik Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah untuk menyoroti pentingnya lingkungan dan mengingatkan orang-orang bahwa alam tidak boleh dianggap remeh. Menurut PBB, momen ini diharapkan memberi orang kesempatan untuk memperluas dasar bagi opini yang tercerahkan dan perilaku yang bertanggung jawab dalam melestarikan lingkungan. Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2021 adalah ‘Restorasi Ekosistem’. Hari itu juga akan diluncurkan Dekade PBB tentang Restorasi Ekosistem. Pada tahun 2020, temanya adalah ‘Merayakan Keanekaragaman Hayati’.
Permasalahan Lingkungan Hidup : Bersama Cintai Alam dan Cegah Abrasi dengan Mangrove, Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan Untuk Mendukung Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim, Sungai Sebagai Sumber Peradaban Mulia, Problematika Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Negawa Zamrud Khatulistiwa, Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut, Penyelesaian Konflik Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia, Perlindungan dan Pengelolaan Lahan Gambut dan Lahan Basah, Strategi Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk Pelestarian Lingkungan, Konservasi dan Pemanfaatan Keragaman Hayati Untuk Kesejahteraan Bangsa, Pembangunan Rendah Karbon dalam Mendukung Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup, Tantangan Penerapan Clean Development, Break Free From Plastic: A Solution from Ocean Sustainability in Indonesia, Arti Penting Biodiversity dan Upaya Konservasi dalam Rangka Memperingati Hari Lingkungan Hidup.
Selain itu ada juga, Kebijakan dan Perspektif Hukum Bidang Lingkungan: Peran Ahli Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, Penegakan Hukum Lingkungan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, Terus Berbakti di Tengah Pandemi Untuk Lingkungan dan Hutan Lestari, Merawat Lingkungan Hidup, Merajut Kebangsaan, Mempertegas Kebhinekaan, Penyusunan dan Penilaian Dokumen AMDAL Pada Era New Normal, Potensi Kearifan Lokal dalam Upaya Mendukung Kelestarian Lingkungan, Strategi Mitigasi Bencana Terhadap Dampak Pencemaran Lingkungan di Kawasan Industri, Relaksasi Pengelolaan Hutan Indonesia Pasca Undang-Undang Cipta Kerja, Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Lingkungan dalam Isu Perubahan Iklim dan Pencemaran Lingkungan, Tata Kelola dan Pemanfaatan SDA Serta Kebencanaan Berkarakter Kerakyatan dan Berprespektif Ekologis, Pengelolaan, Perizinan, dan Upaya Pemulihan Pencemaran Limbah B3, Urgensi Dorongan Asosiasi Bisnis dalam Memastikan Implementasi Bisnis dan HAM dalam Konteks Lingkungan dan Perubahan Iklim, Implementasi Nawacita ke-VI Melalui Program Perhutanan Sosial Guna Meningkatkan Produktivitas Masyarakat, Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), RTRW dan RPJM.
Lingkungan dalam Sudut Pandang Agama: Mendulang Pahala dalam Kegiatan Perbaikan Lingkungan, Solusi Islam dalam Menuntaskan Persoalan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Lingkungan Hidup Berbasis Agama Islam Untuk Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim di Indonesia, Peran Umat Islam dalam Perubahan Iklim dan Lingkungan, Menumbuhkan Kreatifitas Generasi Muda dalam Mengelola Lingkungan Hidup, Solusi Lingkungan Berbasis IT, Penguatan Sistem Manajemen Pengelolaan Limbah Untuk Meningkatkan Kualitas Lingkungan, Pemanfaatan Informasi Geospasial Untuk Peningkatan Sinergi Pengelolaan Lingkungan, Inovasi dan Teknologi Pengelolaan Sampah Plastik.
SMPIT Harapan Bunda telah mengimplementasikan kegiatan pelestarian lingkungan, salah satunya dengan pengadaan green house di area halaman sekolah. Tidak hanya itu, di SMPIT Harapan Bunda juga ada penanaman bibit buah dengan jumlah yng tidak sedikit. Dengan adanya hal tersebut, sudah membiasakan para siswa dan seluruh civitas akademika untuk menjaga lingkungan yang bersih dan sehat secara alami.
Oleh : Irma Erviana, S.Pd.
Pengumuman
Berita

Selasa, 21 Desember SMPIT Harapan Bunda mengundang bapak Kepala Dinas Pendidikan kota Semarang, Gunawan Saptogiri, S.H., M.M. dalam rangkaian acara raker hari kedua bertempat di SMPIT Harapan Bunda. Setelah raker pertama hari sebelumnya, yaitu pemaparan laporan pertanggung jawaban semester pertama. Acara tersebut, Bapak Gunawan Saptogiri menyoroti tentang pendidikan karakter dan Literasi digital. Para guru dan karyawan menyambut baik dan sangat antusias berdiskusi dengan bapak kepala Dinas Kota Semarang. Pelatihan dihadiri oleh segenap Civitas Academika SMPIT Harapan Bunda. Walaupun sesi tersebut hanya berkisar kurang lebih satu setengah jam, namun kedatangan bapak Gunawan membawa energi positif bagi para guru dan karyawan.
Hari ke tiga, raker dilanjutkan ke Banyumili Salatiga dengan agenda penyerahan penghargaan guru dan karyawan serta lomba pentas seni dan outbond. Acara ditutup dengan makan siang dan sesi foto bersama. Tujuan dari raker ini, Selain sebagai agenda menjalin ukhuwah dan keakraban guru dan karyawan, juga sebagai agenda evaluasi untuk perbaikan-perbaikan program sekolah ke depan.
“Rapat kerja ini merupakan forum rapat tertinggi, kita dapat memanfaatkan momentum ini sebagai agenda untuk meningkatkan pengembangan kompetensi guru dan peningkatan program-program demi kemajuan SMPIT Harapan Bunda khususnya dan pendidikan Indonesia pada umumnya.” Tutur Kepala Sekolah SMPIT Harapan Bunda, Rianda Herlan Sapta Aji.
Berita

Negara Kesatuan Republik Indonesia atau sering dikenal dengan NKRI adalah sebuah negara kepulauan besar yang diapit oleh dua benua dan dua samudera. Negara ini dihuni oleh jutaan penduduk yang cukup heterogen. Berdirinya NKRI ditandai dengan proklamasi kemerdekaan yang naskahnya dibacakan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. NKRI terlahir dari sebuah bangsa yang besar yang memiliki jiwa, semangat, dan nilai-nilai juang (JSN). Hal itulah yang menjadi salah satu sebab meraih kemerdekaan dari penjajah melalui perjuangan selama sekian abad.
Jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia tidak lahir seketika, melainkan sebuah proses panjang dari masa ke masa. Jika menilik sejarah, maka JSN sudah muncul pada masa kerajaan. Salah satunya, Mahapatih Gajah Mada yang hidup di masa kerajaan Majapahit pernah bersumpah, yaitu Sumpah Palapa, yang menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Esensi dari sumpah tersebut adalah semangat kebangsaan yang ditanamkan memunculkan nilai-nilai kejuangan. Selanjutnya memasuki awal abad ke 20, JSN mulai nampak berbuah hasil dengan berdirinya organisasi Budi Utomo. Kemudian diikuti organisasi yang mengusung semangat kebangsaan lainnya. Puncaknya ikrar Sumpah Pemuda yang bersepakat untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa yang satu. Perjuangan ditutup dengan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang menandakan Indonesia menjadi Negara merdeka dan berdaulat.
Nilai-nilai yang membersamai selama proses perjuangan memperoleh kemerdekaan bangsa Indonesia disepakati sebagai dasar, landasan, dan kekuatan serta daya dorong bagi para pendiri NKRI yang kemudian diistilahkan JSN 45. Nilai-nilai dasar dari JSN 45 dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) semua nilai yang terdapat dalam setiap Sila dari Pancasila; 2) semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945; dan 3) semua nilai yang terdapat dalam Undang-undang Dasar 1945, baik pembukaan, batang tubuh, maupun penjelasannya.
Pasca kemerdekaan, JSN 45 menjadi pedoman dalam membangun Indonesia. Arah dan kebijakan pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan bidang lainnya tidak terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam JSN 45. Sebagai contoh, dalam perundangan termaktub bahwa semua warga negara mendapatkan pendidikan minimal sampai dengan jenjang SMA (wajib belajar 12 tahun). Maka pemerintah berjuang untuk melaksanakan program tersebut, melalui penganggaran APBN agar pendidikan dapat diakses secara gratis, terutama bagi warga negara kelas menengah ke bawah. Walaupun realita saat ini, belum bisa menjangkau seluruh warga negara, karena keterbatasan APBN untuk pendidikan. Pada sisi masyarakat, yaitu para guru berjuang agar pendidikan di sekolah-sekolah semakin berkualitas, dan para siswa berjuang dengan bersungguh-sungguh mengikuti proses pembelajaran yang diikuti. Upaya memajukan pendidikan di Indonesia merupakan wujud dari implemetasi JSN 45 dalam membangun bangsa dan Negara.
Nilai-nilai yang terkandung dalam JSN 45 harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh semua lapisan masyarakat, maka perlunya pembiasaan yang akan menjadi budaya. Hal tersebut dapat dimulai pada generasi muda yang merupakan aset bangsa di masa yang akan datang. Tempat terbaik untuk pembiasaan adalah sekolah yang merupakan tempat belajar. Sekolah sebagai tempat pembiasan anak sejak dini, selain mengajarkan ilmu pengetahuan juga memberikan pendidikan nilai-nilai dasar kehidupan (pendidikan karakter). Oleh karena itu, sekolah harus mampu mengemas JSN 45 ke dalam aturan dan program sekolah, sehingga ketika JSN 45 menjadi budaya akan terbentuk karakter pada diri setiap siswa.
SMP Islam Terpadu (SMPIT) Harapan Bunda sebagai sebuah sekolah yang mengutamakan pendidikan karakter, sinergis dengan harapan tersebut. Bagi masyarakat, pendidikan di sekolah sangat berperan penting sebagai sarana perubahan. Perubahan tersebut meliputi perubahan intelektual, harkat, martabat, dan perubahan akhlak. SMPIT Harapan Bunda dibentuk dengan sistem Full Day School. Full Day merupakan salah satu ciri Sekolah Islam Terpadu yang bertujuan untuk memberikan banyak kesempatan untuk siswa dalam memanfaatan waktu agar lebih produktif. Praktik nyata JSN 45 di SMPIT Harapan Bunda, diantaranya berketuhanan, musyawarah, persaudaraan, keberanian, dan perjuangan. Praktik pembiasaan dari “berketuhanan” yaitu selalu menanamkan iman dan takwa dalam setiap aktivitas, tidak hanya saat berada di tempat ibadah (Masjid). Setiap pagi siswa dilatih untuk pembiasaan shalat dhuha dan doa pagi sebelum memulai pembelajaran. Selain itu, siswa selalu diingatkan untuk menjaga adab, seperti: adab saat menuntut ilmu di kelas, adab makan, adab bergaul, dan adab dalam beraktivitas lainnya yang merujuk pada aturan agama (al Qur’an dan Shunnah). Praktik pembiasaan dari “bermusyawarah” dengan selalu menjalin komunikasi dan koordinasi dengan civitas akademika sekolah (guru, orang tua, yayasan, dan masyarakat sekitar) secara kontinu. Komunikasi dan koordinasi yang baik akan memperkuat kesatuan untuk bersama-sama mensukseskan program-program sekolah.
Praktik pembiasaan lainnya, “persaudaraan” yaitu senantiasa mengajarkan kasih sayang dan tata krama kepada siswa. Sebagai orang Jawa pastinya hal tersebut tidak terpisahkan karena merupakan sebuah tradisi dan prinsip hidup dalam keseharian. Dimana, kakak kelas memberikan teladan dan menyanyangi adik kelasnya, sedangkan adik kelas menghormati dan bersikap santun terhadap kakak kelasnya. Sesama siswa saling membantu dan bekerjasama satu sama lain, saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan. Praktik pembiasaan dari “keberanian” melalui kegiatan outing class, seperti berkemah, edu wisata, kunjungan belajar di luar sekolah. Kegiatan outing class melatih siswa untuk mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab. Terakhir, praktik pembiasaan dari “perjuangan” adalah bahwa selama siswa menempuh pendidikan di sekolah, ada ujian yang dilalui. Ujian tersebut berupa ujian pengetahuan dan keterampilan saat kenaikan kelas dan kelulusan maupun ujian lainnya, seperti lingkungan sosial, rasa jenuh, dan sifat malas. Semuanya harus ditaklukkan oleh siswa dengan sungguh-sungguh, kerja keras, dan do’a. Pembiasan-pembiasaan JSN 45 tersebut tentunya sesuai dengan visi misi SMPIT Harapan Bunda untuk menjadi sekolah yang unggul dalam akkhlak dan prestasi.
Oleh: Rianda Herlan Sapta Aji
Berita

Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tanggal tersebut dipilih sebagai penghormatan terhadap guru, yaitu bertepatan dengan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Melalui hari guru, kita diingatkan akan jasa-jasa para guru. Setiap orang hebat, dibaliknya ada peran para guru yang berjuang dengan sekuat tenaga. Mereka ingin agar anak didiknya menjadi lebih baik dari dirinya suatu saat nanti. Kesuksesan anak didik merupakan kebanggaan yang luar biasa.
Sebagaimana hari-hari perayaan lainnya, Hari Guru Nasional menjadi momentum untuk memberikan penegasan kepada khalayak bahwa guru memiliki peran sentral dalam pembangunan sebuah Negara yang berdaulat. Kita tahu bahwa Jepang pernah luluh lantak karena serangan bom atom oleh Amerika, dan akhirnya menyerah kepada sekutu. Apa yang dilakukan oleh kaisar Jepang? Kaisar memerintahkan untuk mendata berapa jumlah guru yang masih hidup. Kaisar tahu bahwa guru memiliki peran sentral untuk memulihkan kembali Negara itu. Setelah sekian tahun berlalu, sekarang Jepang menjadi salah satu Negara Maju di dunia dan unggul dalam bidang teknologi.
Beberapa dekade yang lalu, Negara tetangga Indonesia yaitu Malaysia mengambil SDM guru-guru Indonesia atas permintaan pemerintahnya. Namun, kenyataan kini, pendidikan di Indonesia tertinggal selangkah dengan Malaysia. Guru di Indonesia belum menjadi profesi yang diminati atau impian banyak orang. Berbeda dengan profesi sebagai dokter atau polisi, yang persaingannnya luar biasa. Hal tersebut tidak terlepas dari kesejahteraan yang diperoleh guru yang belum merata. Guru yang berstatus PNS sudah tidak ada masalah dengan kesejahteraan, tapi guru honorer dan swasta, sampai hari ini masih berjuang hanya untuk sekadar menyambung hidup sehari-hari. Kondisi demikian, menjadi salah satu faktor menurunnya kualitas pendidikan.
Sebagai contoh, Negara Finlandia yang menyandang pendidikan terbaik nomor satu di dunia, pemerintahnya menggaji guru sekolah sangat besar, bahkan lebih besar dari pengajar di perguruan tinggi. Dengan gaji yang besar, profesi guru menjadi diminati, sehingga pemerintah Finlandia menetapkan standar untuk menjadi seorang guru. Standar yang ada bertujuan agar SDM guru semakin berkualitas yang berdampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Sistem tersebut menjadikan para guru terus meningkatkan keilmuannya, salah satunya menempuh pendidikan sampai dengan pascasarjana.
Bergeser ke situasi pendidikan di Indonesia, para guru dengan senyum keikhlasan menghadirkan semangat kesungguhan kepada anak didik di ruang-ruang kelas. Mereka tetap totalitas dalam mengajar dan mendidik generasi bangsa. Hanya ada satu harapan, anak didik yang mereka ajar suatu saat nanti menjadi orang-orang hebat. Ada unsur ibadah dalam mereka mendidik para generasi bangsa ini. Generasi yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan melanjutkan pembangunan. Walau hanya berstatus guru honorer, harapan itu tetap terpatri, optimisme tetap terbangun oleh para guru.
Kembali ke kini, di sudut sekolah, berdiri seorang anak didik yang memandangi dari kejauhan wajah-wajah gurunya yang terlihat dari balik jendela ruang guru. Anak tersebut menyaksikan gurunya yang nampak letih saat jam istirahat, namun bersemangat saat mengajar. Wajahnya seakan bercerita kepada anak tersebut bahwa menjadi seorang guru adalah pilihan hidup dan panggilan jiwa. Menjalaninya dengan istiqomah, walaupun kesejahteraan masih jauh. Kemudian, anak tersebut berbisik lirih “wahai guru, aku bersaksi itulah pesonamu, yang membuat kesuksesan anak didikmu suatu saat nanti, karena kau menjalaninya dengan dasar cinta dan dari hati”. Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2021 untuk para guru di seluruh Indonesia.
Oleh : Rianda Herlan S.A.
Berita

Nur Aida Salsabila siswi kelas 8D Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu(SMPIT) Harapan Bunda Semarang, menyabet Juara Tiga Cabang Tartil Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) Jenjang SMP Tingkat Jawa Tengah.
Berita


Sepuluh November diperingati sebagai hari pahlawan di Indonesia. Pernahkah terlintas dibenak Anda mengapa tanggal yang diperingati sebagai hari pahlawan adalah tanggal 10 November sebagai peringatan pertempuran di kota Surabaya? Pernahkah Anda bertanya mengapa hari pahlawan tidak memilih tanggal dimana pertempuran Diponegoro, Imam Bonjol, Patimura, Serangan Umum 1 Maret Jogjakarta, pertempuran Aceh, Kalimantan, Makasar, Bali, Pembebasan Irian, dsb. Sebagaimana kita ketahui pada tanggal 10 November 1945 telah terjadi pertempuran maha dahsyat di kota Surabaya. Melansir dari laman resmi Kemdikbud, pertempuran tersebut mengakibatkan 20.000 rakyat Surabaya gugur, yang sebagian besar adalah warga sipil. Selain itu, diperkirakan 160.000 warga terpaksa meninggalkan kota Surabaya. Sekitar 2.000 orang prajurit Inggris tewas, hilang, dan luka-luka, serta puluhan alat perang rusak. Rakyat Surabaya tak kunjung menyerah melawan para tentara Inggris. Terbukti mereka berhasil memenangkan pertempuran, yang membuat kota Surabaya dikenang sebagai kota pahlawan. Oleh karena itu, setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Pada dasarnya pahlawan bukan sekedar orang yang berjuang di zaman pra-kemerdekaan. Walaupun faktanya pahlawan pra-kemerdekaan lebih kita kenal karena pengorbanan hidupnya demi kemerdekaan bangsa ini, mereka sangat patut untuk dikenang karena tanpa adanya mereka, sebuah negara tidak akan mengalami kejayaan. Namun, pahlawan yang demikian tersebut hanya salah satu contoh dari jenis pahlawan. Karena pahlawan memiliki arti yang lebih luas, Definisi pahlawan telah berubah sepanjang waktu. Dalam konteks kuno, pahlawan merupakan tokoh yang dihormati melalui legenda kuno suatu bangsa, yang sering berjuang untuk penaklukan militer. Sedangkan dalam konteks modern, pahlawan merupakan orang yang melakukan tindakan besar atau tindakan tanpa pamrih demi kebaikan bersama, bukan dengan tujuan mencari kekayaan, kebanggaan, ataupun ketenaran. Contoh pahlawan di masa modern adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang biasanya ditujukan untuk para guru, pahlawan lingkungan, pahlawan devisa negara, pahlawan tenaga medis dan lain sebagainya.
Memaknai hari Pahlawan bagi generasi muda Indonesia sangat banyak faedahnya. Hidup yang bermakna adalah hidup yang diperjuangkan. Mari kita berusaha untuk menjadi generasi yang jujur dan berintegritas. Janganlah kita menjadi generasi muda yang justru melakukan tindakan yang merugikan negara tercinta ini. Jadilah generasi muda yang pemberani dan tegas melawan segala ketidakjujuran demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Melihat kondisi generasi muda saat ini, rasanya jauh sekali jika dikatakan sudah menerapkan nilai juang dari para pahlawan. Para pahlawan saling bekerja sama mempertahankan kemerdekaan Indonesia hingga titik darah penghabisanpun dilakukan.
Generasi muda sudah seharusnya memiliki jiwa kepemimpinan yang harus selalu dijaga, karena masa depan bangsa ada ditangan anak-anak muda. Penting untuk memiliki sikap kepemimpinan dengan kepekaan terhadap masalah sosial, lingkungan, dan politik sebagai representasi wajah baru bangsa Indonesia. Kita merefleksi pada diri sendiri, apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan potensi spiritual dan sosial diri dalam bidang kita masing-masing, mengukir prestasi dan bermanfaat bagi sesama. Itulah yang disebut dengan pahlawan bagi bangsa saat ini. Namun, seiring dengan meningkatnya globalisasi, mulai dari kecanggihan teknologi yang modern, kehidupan masyarakat khususnya generasi muda saat ini pun cenderung bersikap individualistis, tidak terlalu peduli dan memikirkan orang-orang disekitar yang masih membutuhkan bantuan dan uluran tangan, meski hanya tenaga yang dikeluarkan. Mari bantu Indonesia untuk lebih peduli akan sosial disekitar kita, bantu Indonesia bangkit dari keterpurukan, dan mari bantu Indonesia untuk selalu mematuhi protokol kesehatan dimasa new normal ini. Mari kita jaga bersama keluarga dan lingkungan sesama kita. Kita semua bisa jadi pahlawan walaupun tidak harus dimedan perang, Selamat Memperingati Hari Pahlawan,
Oleh: Lukman Afifudin
Berita

Tanggal 28 Oktober diperingati Hari Sumpah Pemuda, yang merupakan moment penting untuk dikenang oleh para kaum muda. Momentum Hari Sumpah Pemuda seharusnya dijadikan sebagai inspirasi bagi para generasi muda, untuk bisa semakin bersatu, bangkit dan tangguh. Peristiwa Sumpah Pemuda menegaskan rasa senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa. Ikrar di dalam Sumpah Pemuda merupakan simbol kebangkitan bangsa Indonesia karena memberikan pengaruh yang sangat besar bagi organisasi pergerakan, semangatnya sangat dibutuhkan dalam mengisi kemerdekaan.
Pentingnya Hari Sumpah Pemuda tidak hanya dijadikan sebagai peringatan biasa saja. Hari Sumpah Pemudah harus jadi pemantik semangat para kaum muda untuk lebih meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan. Apalagi di era digital saat ini, arus informasi semakin terbuka, jika tidak berhati-hati maka akan berpotensi memecah belah rasa perasatuan dan kesatuan. Banyaknya perbedaan yang ada di Indonesia dari banyaknya pulau, ragam budaya, perkembangan ekonomi maupun politik serta perbedaan lainnya. Kita kaya akan keanekaragaman.
Ikrar Sumpah Pemuda harus benar-benar dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa. Sebagai generasi saat ini, perlu mengingat dan mencontoh generasi-genarasi masa terdahulu, yang mana rasa semangat senantiasa menggelora di dalam dadanya, mampu mempersatukan berbagai perbedaan yang muncul sehingga lahirlah ikrar Sumpah Pemuda. Sumpah pemuda merupakan janji sakti yang mengikat dari berbagai macam perbedaan yakni:
“Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.”
“Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.”
“Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Dari ikrar Sumpah Pemuda itulah seharusnya kaum muda saat ini, semakin semangat mengisi kemedekaan dengan karya-karya yang meningkatkan prestasi bangsa. Selain itu, ikrar Sumpah Pemuda seharusnya tidak hanya sebagai sumpah yang diucapkan akan tetapi perlu kita serap dalam pikiran, dijadikan sebuah sugesti dalam jiwa yang paling dalam, serta diimplementasikan dalam tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ikrar Sumpah Pemuda yang dilahirkan oleh para pahlawan dan generasi terdahulu, merupakan bentuk kobaran semangat perjuangan dari para pemuda Indonesia, yaitu dalam kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Tiga butir isi Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin pada secarik kertas tersebut, tenyata mampu membangkitkan semangat para kaum muda dalam merebut kemerdekaan. Dan momentum tersebut bisa kita jadikan refleksi untuk terus bangkit dan berlomba-lomba dalam hal positif untuk mengisi kemerdekaan saat ini.
Dari ikrar Sumpah Pemuda, kita juga bisa mengambil banyak nilai untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam menghormati dan menghargai perbedaan yang muncul, saling tolong menolong antar sesama, semangat berjuang dalam mencapai tujuan yang sama dan masih banyak lagi nilai-nilai postif dari makna sumpah pemuda.
Oleh : Ustadzah Umi
Berita

Berawal dari resolusi jihad seorang ulama legendaris, K.H. Hasyim Asy’ari menjadikan gebrakan luar biasa. Menggerakkan semua lapisan masyarakat untuk bergandengan tangan bersama melawan kolonial penjajah. Peringatan ini mengisahkan Hasyim Asyari yang kala itu memutuskan untuk melakukan resolusi jihad, melawan pasukan kolonial di Surabaya, Jawa Timur. Keputusan itu ditetapkan setelah mendengar tentara Belanda yang berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng sekutu.
Di Surabaya yang panas pada akhir Oktober 1945, para kiai pun berkumpul. Mereka mantap berdiri di belakang Republik Indonesia. Wakil-wakil cabang santri di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci). Maka pada tanggal 22 Oktober 1945, tepat hari ini 76 tahun lalu, lahirlah apa yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. Resolusi yang menyulut semangat mereka; umat dan ulama di banyak tempat yang memiliki hasrat besar untuk menegakkan agama Islam dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Niat itu tertuang dalam pertimbangan Resolusi Jihad bahwa “mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum Agama Islam, termasuk sebagai satu kewadjiban bagi tiap2 orang Islam.” Lewat Resolusi Jihad, kaum santri “memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaja menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sebadan terhadap usaha-usaha jang akan membahayakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap fihak Belanda dan kaki-tangannya.”
Betapa Belanda maupun Jepang telah berbuat kezaliman di Indonesia. Sebelum Oktober 1945 berakhir, pertempuran melawan Jepang sudah terjadi di beberapa tempat selain di Surabaya. Kaum santri juga ikut andil beradu otot melawan tentara asing. Meski tidak punya pasukan yang kemampuan tempurnya setara dengan tentara Jepang, namun setidaknya memiliki pemuda-pemuda yang siap bertempur yang dilatih untuk berjihad memperjuangkan harga diri agama dan bangsanya. Mereka tergabung bersama rakyat melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Pimpinan Sekutu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby pun tewas dalam pertempuran.
Kematian Mallaby itulah yang membuat marah tentara Inggris dan kemudian memicu Pertempuran 10 November 1945. Pahlawan yang legendaris saat pertempuran tersebut adalah Pemuda Sutomo alias Bung Tomo bahkan diketahui meminta nasihat kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Bung Tomo dikenal sebagai orator dalam Pertempuran 10 November 1945 yang membakar semangat arek-arek Surabaya, salah satunya dengan pekikan “Allahu Akbar”. Hingga kini pun kutipan semangat jihad K.H. Hasyim Asy’ari, semoga memompa semangat jihad para santri. Kutipan tersebut adalah, “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardoe ‘ain (haroes dikerdjakan tiap-tiap orang Islam, laki-laki, prempoean, anak-anak, bersendjata atoe tidak) ….”
Itulah sepenggal sejarah yang mencerminkan betapa besar rasa cinta seorang muslim terhadap tanah airnya. Menjadi kewajiban untuk berkorban dan mempertahankan keutuhan bangsa dan negaranya. Maka selayaknya kita kenang peristiwa bersejarah itu sebagai pelajaran berharga untuk pemuda Indonesia, khususnya para santri. Salah satu penghargaan itu adalah dinobatkannya Hari Santri Nasional dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani di Masjid Istiqlal, Jakarta. Peringatan yang tidak hanya merujuk pada komunitas tertentu, tetapi merujuk mereka yang dalam tubuhnya mengalir darah Merah Putih dan tarikan napas kehidupannya terpancar kalimat Laa ilaaha illa Allah.
Dengan begitu, kita dapat kembali mengingat perjuangan dan meneladani semangat jihad para santri yang digelorakan para ulama. Merenung kembali dasar kata ‘santri’ sebagai sebutan yang tentu saja bukan sebutan remeh. Namun sebutan yang penuh arti. Arti tiap dalam hurufnya itu adalah: Pertama, shin: bahwa santri itu harus mengaji dan mencari ilmu agama. Maka sudah seyogyanya seorang santri mengaji dan tahaluf kepada para kiai karena kiai merupakan ulama pewaris nabi yang bisa menghantarkan ia kepada syafaat nabi, dan menyambungkan sanad keilmuannya kepada Rasulullah sang pembawa wahyu Illahi. Kedua, alif: bahwa seorang santri itu harus berakhlakul karimah meneladani akhlak nabi, dan menjaga adatnya sesuai nilai luhur tradisi. Selamat Hari Santri Nasional. Semoga kiprah para santri di Indonesia dapat mengharumkan nama ibu pertiwi seperti halnya yang telah dilakukan para pendahulunya.
Oleh: Nur Adi Putri Satiti, S.S. (dari berbagai sumber)