Berita
Mengubah Tantangan Menjadi Peluang dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Bahasa Arab memiliki posisi yang sangat khas dan penting di lembaga pendidikan berbasis Islam, khususnya SMPIT Harapan Bunda. Bahasa Arab bukan hanya sekedar teori atau mata pelajaran tapi juga menjadi bahasa utama untuk memahami ajaran Islam secara langsung. Realitanya, bahasa Arab sering kali dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh sebagian murid. Hurufnya berbeda dari yang biasa dipelajari sehari-hari, cara bacanya juga unik, dan aturan gramatikalnya cukup kompleks. Tak jarang sebagian murid mengeluh terhadap kesulitan ini atau bahkan menyerah.
Dalam pengalaman belajar mengajar secara langsung, penulis kerap berhadapan dengan kesan awal murid terhadap Bahasa Arab yang tidak jarang menjadi tantangan tersendiri. Tidak sedikit yang merasa minder sebelum mencoba. Maka, di momen ini guru bukan lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penyemangat sekaligus contoh supaya mereka lebih berani dan mau terbuka untuk belajar serta menggunakan bahasa tersebut. Dan akhirnya mereka mampu mengubah rasa takut menjadi rasa ingin tahu.
Dalam beberapa kesempatan di kelas, ada beberapa murid kritis yang mengajukan pertanyaan, “Ustadzah, kita kan bukan orang Arab, ngapain toh us belajar bahasa Arab?” atau pernyataan protes seperti, “Ah, bahasa Arab ‘kan tidak digunakan saat di SMA Negeri atau nanti saat bekerja, paling dibutuhkan kalau masuk pondok atau kalau mau jadi guru bahasa Arab, Ustadzah.” Sekilas, pertanyaan ini terdengar seperti celetukan iseng biasa dan komentar protes mereka. Komentar seperti itu biasanya bukan hanya sekedar “asal ngomong”, tapi mungkin ada beberapa hal yang perlu kita kaji sebagai guru.
Alasan dibaliknya mungkin cukup beragam. Namun secara garis besar, itu bisa jadi merupakan cara mereka menyembunyikan kegelisahan—rasa takut menghadapi bahasa yang masih terasa asing bagi mereka. Kalau sejak awal stereotipe mereka bahwa bahasa Arab terasa rumit (huruf berbeda dan banyak aturan yang kurang familiar), maka akan sangat wajar jika muncul “defense mechanism” seperti meremehkan hal tersebut supaya merasa lebih aman.
Berbeda dengan bahasa Inggris yang sering mereka dengar dari lagu, film, media sosial, bahkan percakapan sehari-hari. Bahasa Arab masih belum membumi di kalangan murid dan minim keterpaparannya dalam kehidupan bersosial murid di luar konteks pembelajaran dan ibadah. Hal inilah yang membuat bahasa Arab terasa jauh dan terkesan kaku bahkan serius, bukan bahasa fleksibel untuk komunikasi santai. Padahal kenyataannya tak sejalan dengan yang mereka asumsikan.
Maka guru dituntut kreatif untuk menghadirkan jawaban dari keresahan dan ketakutan murid. Memvalidasi tanpa membenarkan sepenuhnya dan tidak menganggap remeh pertanyaan atau komentar mereka adalah langkah awal. Menjadi pendengar di awal kegelisahan mereka membuat murid merasa dihargai sehingga mereka lebih mau untuk terbuka dan akhirnya guru bisa menggali akar permasalahan yang mereka hadapi.
Setelah itu guru dapat mengaitkan pembelajaran dengan hal yang paling dekat dengan mereka, mengajak mereka berpikir untuk melihat bahasa Arab dari perspektif lain sehingga mereka dapat menemukan alasan yang kuat untuk mau belajar bahasa baru. Maka yang paling penting untuk dipahamkan kepada murid adalah mereka tidak harus langsung jago dalam belajar apa pun, termasuk bahasa Arab. Yang paling penting adalah kemauan dan keberanian untuk terbuka dan mencoba hal baru.
Guru mengarahkan murid dari “takut” jadi “penasaran. Refleksi yang bisa membuat murid berpikir, seperti berikut, “Kadang yang membuat kita takut itu bukan bahasa Arabnya, tapi pikiran kita sendiri yang bilang ‘ini susah’. Padahal semua yang jago sekarang, dulunya juga berawal dari tidak bisa. Bedanya, mereka tidak berhenti di rasa takutnya. Kalau semua orang hanya fokus mengejar bahasa Inggris, kalian cuma jadi ‘sama kayak yang lain’. Tapi kalau kalian punya bahasa Inggris dan bahasa Arab, kalian punya sesuatu yang nggak semua orang punya.”
Bahasa pada dasarnya adalah alat komunikasi, sehingga keberhasilan belajar bahasa tidak hanya diukur dari seberapa banyak kosa kata yang dihafal atau seberapa paham terhadap kaidah, tetapi dari kemampuan untuk menggunakannya dalam komunikasi secara langsung. Sehingga guru dalam hal ini lebih baik memfokuskan untuk memberi pengalaman langsung tentang bagaimana mereka jika dihadapkan oleh penutur asli bahasa Arab. Akhirnya pembelajaran yang berhasil itu adalah ketika apa yang guru ajarkan diaplikasikan secara aktif oleh murid dan menjadi bahan refleksi mereka ke depannya.
Menariknya, momen paling berkesan dalam mengajar Bahasa Arab di SMPIT Harapan Bunda -setelah melihat tantangan yang ada- justru datang dari hal-hal sederhana. Misalnya, ketika beberapa murid yang awalnya diam mulai berani mengucapkan satu kalimat dalam Bahasa Arab. Atau ketika murid saling menyapa bahkan menyapa guru, mengobrol menggunakan Bahasa Arab di luar jam pelajaran. Hal-hal kecil seperti ini menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak berhenti di dalam kelas, tetapi mulai tumbuh dalam kebiasaan mereka.
Oleh: Latiefa Ighfirlia Rachiem
humaspanda@gmail.com
(024) 6710497























