Pengumuman
Pengumuman










Pengumuman
Pengumuman
Pengumuman

Semoga diberi kemudahan dan kelancaran,, serta mendapatkan hasil praktik yang bisa di aplikasikan bagi kebermanfaat kehidupan sehari-hari.
Berita

Berita

Berita





Kegiatan Sekolah Orang Tua( SOT) SIT Harapan Bunda Semarang dengan Tema “Menyiapkan Anak Menuju Baligh (1- 3) Bersama Ustadz Adriano Rusfi.
Link Youtube Kegiatan SOT 1 :
Link Youtube Kegiatan SOT 2 :
Link Youtube Kegiatan SOT 3 :
Pengumuman
Berita

Alhamdulillah dan Barakallah Atas diraihnya Prestasi lomba JSIT Wilayah Jawa Tengah.
Barokallohu fiikum kepada
✨Ananda Nasywa juara harapan 1
✨Bunda Viesta juara harapan 1
✨Ustadz Rico juara 2
✨Ustadz Herlan juara harapan 2
✨Ustadz Ali Mustofa juara harapan 1.
Semoga Menjadi penyemangat bagi Ustadz Ustadzah SMPIT Harapan Bunda untuk selalu berkarya dan memotivasi keluarga besar SPANDA untuk berlomba-lomba dalam kebaikan
Berita

Atas nama Dia yang telah mencipta Diri sendiri!
Yang senantiasa abadi berkarya sejak azali;
Atas nama Dia yang mencipta agama,
Saling percaya, kasih, karsa, dan tenaga;
Atas nama Dia, yang begitu kerap disebut,
Namun yang hakikatnya senantiasa luput:
…
(Goethe)
Penulis sedikit menyematkan puisi karya Goethe sebelum membahas inti dari pada tulisan ini. Siapakah Goethe? Goethe merupakan tokoh Jerman terbesar pada masanya. Ia dapat dikatakan sebagai sastrawan juga. Mengapa harus puisi Goethe? Goethe sesosok penggemar budaya dari berbagai macam budaya dunia termasuk Timur Tengah yang pada masanya itu Islam Berjaya. Belum bisa dikatakan pasti bahwa Ia telah memeluk Islam sebagai jalan hidupnya. Akan tetapi, kecintaannya dan rasa penghormatannya terhadap Islam, kitab Suci-Nya, bahkan Nabi-Nya membuatnya mampu melahirkan karya-karya besar yang saat ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Lantas, bagaimana dengan kita? Karya apa sajakah yang telah kita hasilkan? Bila tidak mampu menghasilkan karya sebagaimana Imam Bukhari dan Muslim bahkan Imam Ghazali-pun.
Lantas, bagaimana dengan karya budi pekerti, akhlak, serta perangai kita? Sudahkah kita sebagai muslim-muslimah sedari kandungan ataupun sedari kecil yang telah diperkenalkan dengan norma-norma keislaman, mampu menebar kebaikan tanpa berkeluh kesah? Mampu menebarkan senyuman tanpa kepalsuan? Yakinkah kita mencintai Dia dan utusan-Nya itu dengan setulus hati? Atau jangan-jangan karena imbalan pahala dan surga. Dan mampukah kita bersyukur tanpa ditegur?
Ditambah lagi, bulan ini pandemi belum usai dan kita diminta untuk lebih bersabar. Dua tahun sudah pandemi menduduki kejayaan di bumi. Kabar duka, kematian, dan kenelangsaan yang terdengar bak petir menyambar. Bolehkah kita menyerah? Bolehkah kita pasrah? Atau Siap menghadapi dengan pola pikir bahwa Tuhan sedang menghibur kita? Inilah cara-Nya untuk menyayangi kita. Inilah cara-Nya untuk membuat kita bersyukur. Inilah cara-Nya untuk menyadarkan kita bahwa apapun yang terjadi adalah atas Kehendak-Nya. Sekalipun itu kematian yang dibicarakan.
“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau.” Indah bukan kalam-Nya? Sebelum diri ini hadir dengan nafasnya, Tuhan melalui kalam-Nya yang tertuang dalam Qs. Muhammad: 36 telah menyajikan sebuah untaian redaksi yang begitu membumi dan melangit. Bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Lantas, mengapa kita begitu hiperaktif terhadap perkara dunia yang sejatinya sudah ada yang mengaturnya. Mengapa tidak kita rubah setiap tragedi di dunia ini menjadi komedi. Dalam artian kita memandang dari sudut pandang yang sederhana dan unik.
Lihatlah ini! Bukankah hanya pandemi yang mampu meliburkan sekolah dalam jangka waktu yang begitu panjang. Sekalipun putra mahkota dari Indonesia meminta agar ada libur panjang untuk sekolah-pun takkan pernah dikabulkan. Setidaknya, banyak orang tua yang tersadarkan bahwa realita dalam pendidikan itu tidak cukup dengan kata percaya dan menitipkan. Anak-anak tersadar bahwa sampai kapanpun kepemahaman ilmu dari guru tidak dapat tergantikan oleh gadget. Meskipun gadget pada masa ini sangatlah membantu. Akan tetapi, gadget tidak mampu memberikan keteladan secara langsung terkait adab dan tata krama.
Memahami Ketentuan-Nya, tidak hanya sekedar dengan mempelajari hingga paham. Tapi, bagaimana penerimaan diri kita terhadap ketentuan dari-Nya. Apa yang telah terjadi pada diri kita, Allah Ridho itu terjadi. Kasih sayang dan ramat Allah sebagai Tuhan kita sangat besar dari pada siksa-Nya. Mana mungkin Allah akan tega menyiksa umat yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad SAW.
Teringat dengan perjalanan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan yang mematahkan kemustahilan bahwa Allah itu tiada. Perjalanan singkat dengan tujuan menghibur hati Nabi SAW yang ditinggal pergi oleh istri dan paman tercintanya. Perjalanan semalam yang membawa oleh-oleh bahagia berupa perintah Salat lima waktu yang semula 50 waktu.
Bukankah dari peristiwa itu Nabi SAW telah membawakan syifaa’ atau obat bagi umatnya. Obat susah, gelisah, nelangsa dan pengusir kenestapaan. Bahkan menjadi syifaa’ dari segala penyakit hati dan pikiran. Bukankah spirit kita tetap aman dan terjaga. Karena kita selalu rutin bertemu dengan Sang Pencipta di lima waktu. Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Bukan pasrah melainkan berharaplah dan bertawakkallah.
Sebagai puncaknya, ialah menjemput hikmah pada setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini. Jemputlah dahulu setiap hikmah dari tragedi kehidupan. Pelajari dan pahami. Barulah resapi dengan tindakan. Dari situlah kita dapat menjalankan rasa syukur tanpa harus ditegur. Semoga terlaksana. Aamiin. Wallaahu A’lam Bisshawab.
Oleh : Sisca Afriyanti

Berita

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini pengaruh media baik media online maupun media sosial sangat signifikan terhadap dunia pendidikan. Kemudahan informasi yang didapat, menimbulkan kelemahan tersendiri, salah satunya menurunnya tingkat literasi siswa terhadap buku maupun teks cetak lainnya, yang menjadi sumber autentik dan ilmiah.
Dalam dunia pendidikan media sosial maupun online memberi pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar. Media sosial bisa memberikan pengaruh positif terdapat dunia pendidikan. Sebab akan memudahkan para siswa untuk mengumpulkan informasi, menambah pengetahuan dan membuka wawasan agar bisa berinteraksi dengan orang lain, membantu para siswa untuk melek terhadap perkembangan teknologi, membuat para siswa untuk kreatif dan terampil dengan melihat video-video yang ada di medsos dan sebagianya.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial juga dapat memberikan dampak negatif terhadap dunia pendidikan, yakni akan mengurangi semangat para siswa untuk membaca buku pelajaran atau mencari sumber-sumber yang ada di perpustakan karena menurut mereka, hal tersebut terlalu ribet, siswa akan menjadi malas belajar dan lebih sibuk dengan media social atau online saja, siswa akan kurang berinteraksi dengan orang yang ada di dekatnya sehingga menimbulkan kesulitan untuk berkomunikasi ketika tata muka, para siswa akan mencari cara mudah untuk mendapatkan sesuatu secara instan dan yang paling parah akan membuat para siswa menjadi orang yang kecanduan untuk menggunakan media sosial maupun media online lainnya.
Bagaimanapun, perkembangan media online yang begitu pesat seperti saat ini, tidak bisa kita abaikan begitu saja. Tetapi bagaimana agar media online maupun media sosial tersebut kita sikapi secara bijak. Pergunakan media yang ada sebagai cara untuk mendukung dan memudahkan segala urusan maupun pekerjaan kita. Jangan sampai kita ketergantungan terhadap media online ataupun media sosial yang ada.
Oleh karena itu, peran guru dan orang tua terhadap pengaruh media social maupun media online dalam dunia pendidikan sangatlah penting untuk membantu para siswa atau anak agar mereka bisa menggunakan medsos secara bijaksana dan bertanggungjawab. Sehingga mereka bisa mengunakan medsos sesuai dengan fungsi atau menggunakan medsos untuk hal-hal yang membantu mereka dalam menimbah ilmu dan membuka wasasan yang luas tentang suatu masalah yang terjadi di sekitar mereka. Kemudian untuk menghindari kecanduan medsos, salah satu cara yang harus dilakukan adalah membuat jadwal bagi anak-anak untuk menggunakan media sosial maupun media online secara proporsional agar mereka tidak merasa tergantung pada medsos.
Oleh : Sugiharti