Berita
MENGAJAR TIK DI KELAS VII IKHWAN

Mengajar kali pertama di laboratorium komputer untuk kelas tujuh ikhwan SMP IT Harapan Bunda merupakan pengalaman yang penuh dengan adrenalin, tawa, dan pelajaran berharga tentang manajemen kelas.
Saat itu merupakan hari pertama saya mengajar TIK. Saya membawa laptop dan tumpukan modul, melangkah menuju laboratorium komputer SMP IT Harapan Bunda. Di depan pintu, sekelompok ikhwan kelas tujuh sudah menunggu dengan antusiasme. Bagi mereka, masuk ke lab komputer bukan sekadar pelajaran, melainkan sebuah petualangan.
Saat pintu lab computer terbuka, suasana menjadi riuh. Anak-anak yang baru saja bertransisi dari SD ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Belum sempat saya membuka sesi dengan salam yang tenang, beberapa dari mereka sudah sibuk menekan tombol power dan memeriksa mouse.
“Ustadzah, ini nanti kita belajar main game?” atau “Ustadzah, boleh buka internet?” adalah pertanyaan-pertanyaan pertama mereka. Di sini saya sadar, mengajar mereka membutuhkan “rem” yang kuat namun tetap ramah agar energi mereka tetap terarah pada materi.
Tantangan terbesar di pertemuan pertama adalah memastikan mereka memahami bahwa lab komputer adalah ruang belajar, bukan sekadar tempat bermain. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak langsung menyentuh keyboard.
Kami menghabiskan 15 menit pertama untuk membahas Adab di Lab Komputer. Mulai dari cara duduk yang benar, larangan membawa makanan, hingga komitmen untuk hanya membuka aplikasi yang diperintahkan. Mengajarkan adab kepada anak-anak harus dilakukan dengan pendekatan yang logis namun tegas, sesuai dengan prinsip sekolah Islam Terpadu.
Ketika praktik dimulai, suasana menjadi kondusif. Ada yang mahir hingga melampaui instruksi saya, namun ada juga yang bingung mencari letak tombol Shift. Lucunya lagi, mereka sangat ekspresif. Jika ada yang berhasil membuat sebuah folder atau mengetik kalimat pertama, mereka akan bersorak seolah baru saja mencetak gol di lapangan futsal.
Kesabaran saya diuji saat harus berpindah dari satu meja ke meja lain untuk membantu mereka yang komputernya tiba-tiba “error” hanya karena salah klik. Namun, ketika melihat wajah-wajah polos itu fokus menatap layar, rasanya memberikan kepuasan tersendiri.
Di akhir jam pelajaran, tantangan terakhir adalah merapikan kelas. Mengajak siswa laki-laki usia 12-13 tahun untuk merapikan kursi dan mematikan komputer sesuai prosedur merupakan perjuangan kecil lainnya. Namun, saat mereka bersalaman dengan takzim sambil mengucapkan, “jazakillah, Ustadzah, pelajarannya seru!”, semua rasa lelah itu hilang seketika.
Pengalaman pertama ini mengajarkan saya bahwa mengajar kelas tujuh Ikhwan di SMP IT Harapan Bunda bukan soal seberapa canggih materi yang saya berikan, melainkan seberapa kuat ikatan (bonding) dan kedisiplinan yang dibangun sejak menit pertama. Mereka adalah “kertas putih” yang penuh energi, tugas saya adalah membantu mereka dengan penuh tanggungjawab.
Oleh : Nani Afriyani, S.Sn.
humaspanda@gmail.com
(024) 6710497















