Selamat Datang di Website
Selamat Datang di Website
previous arrow
next arrow
Slider
previous arrow
next arrow
Slider

Mengokohkan kembali jiwa, semangat, dan nilai juang 45 (JSN 45) melalui implementasi pendidikan karakter di SMPIT Harapan Bunda

Berita

Mengokohkan kembali jiwa, semangat, dan nilai juang 45 (JSN…

Mengokohkan kembali jiwa, semangat, dan nilai juang 45 (JSN 45) melalui implementasi pendidikan karakter di SMPIT Harapan Bunda

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terlahir dari sebuah bangsa yang besar yang memiliki jiwa, semangat, dan nilai-nilai juang (JSN). Itulah yang menjadi salah satu sebab meraih kemerdekaan dari penjajah melalui perjuangan selama sekian abad. Jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia tidak lahir seketika, tapi merupakan proses perkembangan sejarah dari zaman ke zaman yang bermula dari zaman kerajaan, hanya saja belum dirumuskan. Barulah pada tahun 1945 saat masa prokalamasi kemerdekaan, JSN disepakati sebagai dasar, landasan, dan kekuatan serta daya dorong bagi para pendiri NKRI yang kemudian diistilahkan JSN 45. Nilai-nilai dasar dari JSN 45 dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) Semua nilai yang terdapat dalam setiap Sila dari Pancasila; 2) Semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945; dan 3) Semua nilai yang terdapat dalam Undang-undang Dasar 1945, baik pembukaan, batang tubuh, maupun penjelasannya.

Akhir abad ke 20 memasuki era globalisasi yang membuat seluruh dunia terhubung. Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Perkembangan infastruktur transportasi serta teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju merupakan faktor utama globalisasi. Globalisasi merupakan fenomena dunia sehingga sangat memiliki pengaruh terhadap setiap aspek kehidupan manusia baik positif maupun negatif, seperti aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya. Perlu menjadi perhatian bersama adalah dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya globalisasi. Salah satunya globalisasi memiliki kemungkinan untuk menghilangkan tradisi, kebiasaan, dan adat istiadat masyarakat, tanpa terkecuali bangsa Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan filter yang berfungsi agar setiap yang masuk dari luar tidak sampai mengubah jati diri bangsa Indonesia.

JSN 45 sebagai filter tentunya sudah dipahami oleh para pendiri bangsa sebelum munculnya globalisasi seperti saat ini. Indonesia perlu menyerap ilmu pengetahuan dari luar, tapi tidak kehilangan jati diri bangsa. Wawasan pengetahuan dan kemajuan teknologinya boleh jerman atau jepang, tapi akhlak dan adabnya tetap Indonesia. Sekali lagi yang memotivasi Indonesia untuk merdeka adalah jiwa, semangat, nilai-nilai kejuangan yang dimilikinya. Dan itu harus terus ditunjukkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih saat ini, dimana seluruh dunia terhubung.

JSN 45 adalah sebuah proses panjang dari zaman ke zaman, dari tempat yang satu ke tempat yang lain yang melebur menjadi rumusan nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. JSN 45 sudah melekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh di kota Semarang, JSN 45 tercermin dalam tradisi lokal yang masih terjaga sampai saat ini yaitu “Dugderan”. Dugderan merupakan sebuah tradisi yang diadakan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1881, sejak masa penjajahan kolonial. Untuk memeriahkan dugderan, biasanya muncul pasar tiban. Pasar ini menawarkan berbagai kuliner, pakaian, mainan, termasuk kerajinan tradisional selama seminggu sebelum bulan suci dimulai. Ada juga arak-arakan Warak Ngendok yang merepresentasikan keberagaman suku, budaya, dan agama di Semarang. Warak Ngendok sendiri merupakan perwujudan tiga unsur binatang; kepala naga, badan unta, dan kaki kambing.

Upaya agar JSN 45 tetap tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu dilakukan di sekolah-sekolah. Sekolah sebagai tempat pembiasan anak sejak dini, selain mengajarkan ilmu pengetahuan juga memberikan pendidikan nilai-nilai dasar kehidupan (pendidikan karakter). SMP Islam Terpadu (SMPIT) Harapan Bunda sebagai sebuah sekolah yang mengutamakan pendidikan karakter, sinergis dengan upaya tersebut. Bagi masyarakat, pendidikan di sekolah sangat berperan penting sebagai sarana perubahan. Perubahan tersebut meliputi perubahan intelektual, harkat, martabat, dan perubahan akhlak. SMPIT Harapan Bunda dibentuk dengan Sistem Full Day School. Full Day merupakan salah satu ciri Sekolah Islam Terpadu yang bertujuan untuk memberikan banyak kesempatan untuk siswa dalam memanfaatan waktu agar lebih produktif.

JSN 45 tercermin dalam pendidikan karakter dan budaya kerja yang ada di SMPIT Harapan Bunda. Diantaranya berketuhanan, musyawarah, persaudaraan, keberanian, dan perjuangan. Wujud implementasi dari berketuhanan yaitu selalu menanamkan iman dan takwa dalam setiap aktivitas, tidak hanya saat berada di tempat ibadah (Masjid). Setiap pagi siswa dilatih untuk pembiasaan shalat dhuha dan doa pagi sebelum memulai pembelajaran. Selain itu, siswa selalu diingatkan untuk menjaga adab, seperti: adab saat menuntut ilmu di kelas, adab makan, adab bergaul, dan adab dalam beraktivitas lainnya yang merujuk pada aturan agama (al Qur’an dan Shunnah). Wujud impelementasi bermusyawarah dengan selalu menjalin komunikasi dan koordinasi dengan civitas akademika sekolah (guru, orang tua, yayasan, dan masyarakat sekitar) secara kontinu. Komunikasi dan koordinasi yang baik akan memperkuat kesatuan untuk bersama-sama mensukseskan program-program sekolah.

Wujud implementasi persaudaraan yaitu senantiasa mengajarkan kasih sayang kepada siswa. Bagaimana kakak kelas bisa memberikan teladan dan menyanyangi adik kelasnya. Begitu juga adik kelas bisa menghormati dan menghargai kakak kelasnya. Saling membantu dan bekerjasama satu sama lain, saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan. Wujud implementasi keberanian melalui kegiatan outing class, seperti berkemah, edu wisata, kunjungan belajar di luar sekolah. Kegiatan outing class melatih siswa untuk mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab. Dan yang terakhir wujud implementasi perjuangan adalah bahwa pendidikan di sekolah terdapat tahapan-tahapan ujian. Ujian tersebut berupa ujian pengetahuan dan keterampilan saat kenaikan kelas dan kelulusan maupun ujian lainnya, seperti lingkungan sosial, rasa jenuh, sifat malas, dan lainnya. Semuanya harus ditaklukkan dan dilewati oleh siswa dengan sungguh-sungguh, kerja keras, dan do’a.

Editor : Rianda Herlan Sapta Aji., S.Pd.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *